Puisi Ulang Tahun

Banyak yang menurut saya salah tindakan, maksudnya ketika kita, mereka, kamu siapa saja merayakan ulang tahun dengan berpesta meriah. apakah anda tahu ? ketika kita ulang tahun, umur kita berkurang, masa hidup kita di dunia berkurang 1 tahun. harusnya kita sedih… bagaimana anda selama 1 tahun kemarin ? apakah anda yain, anda sudah mempersiapkan segala sesuatu jika pas 1 hari setelah merayakan ulang tahun lalu anda meninggal ?. namun ada juga sebagian orang yang beranggapan “justru karena kita hidup di dunia ini cuma 1x”, jadi bersenang-senanglah… lalu bagaimana menurut anda ?

Di Hari Ulang Tahunmu

Kumulai bait puisi yang tak indah ini
(atau bahkan tak layak disebut puisi),
dengan ucapan yang basi pula: “Selamat Ulang tahun!”

Adakah kau tahu?
Hari ini (hari ulang tahunmu), ayahku baru saja pulang
melamar pekerjaan di sebuah perusahaan populer.
“Hahaha! S1 saja belum tentu diterima. Apalagi, lulusan SD
yang tak dikenal oleh walikota.” Begitu sapa tetangga yang sedang minum susu kopi.

“Tidak mengapa, anakku! Setidaknya ayah sudah menginjakkan kaki
di lantai perusahaan itu!” ucap ayah sambil membelai rambutku.

Hari ini pula, kubayangkan diriku jadi ayah di hari ini.
Kuberpura-pura jadi gadis buta warna yang tidak tahu
aturan warna ulang tahunmu. Bajumu tidak cocok! Begitu kata undanganmu.

“Ah, anggap saja bajuku adalah puisi yang bisa jadi warna apa saja!” lawanku

Adakah kau juga tahu?
Hari ini (hari ulang tahunmu), ibuku baru saja pulang dari pasar.
Jualannya tidak laku. Sudah basi! Kata pembeli-pembeli itu.
Ibu yang pura-pura tuli membawa jualannya pulang ke rumah.

“Siapa tahu, besok masih bisa dijajakan!” ucap ibu saat melihat
tatapan sayu di mataku.

Hari ini pula, kubayangkan diriku jadi ibu dihari ini.
Kuberpura-pura jadi gadis buta angka yang tidak tahu
pukul berapa pesta ulang tahunmu bermula. Sudah terlambat!
Begitu kata satpam di depan pagar.

“Ah, siapa tahu jam tangannya macet-macet!” kataku sambil
menutupi semu merah di pipiku.

Hahaha! Ada-ada saja puisi ini.
“Selamat Ulang Tahun! Semoga Panjang Umur! Dan, Sukses Menyertaimu!”
Plok! Plok! Plok!


Surat Ulang Tahun!

Membaca judul suratku, kau pasti heran, bukan?
Tunggu! Kau tak pantas untuk heran!
Bukankah kemarin kau yang mengajariku menulis surat?
Kau ingat, bukan?

Setiap isi suratmu, selalu bercerita dengan cerita yang berbeda.
Kadang, kau tersenyum bahwa kau sedang jatuh cinta.
Kadang juga kau menitikkan air mata sambil berkata bahwa kau sedang putus cinta.

Di lain surat kau, kau bercerita kalau kau sedang menderita sakit perut.
Namun, di penutup kau mengatakan kalau kau sedang sakit kepala.
Yang manakah, yang betul?

Ah, jangan-jangan hari ini bukan hari ulang tahunmu.
Tetapi, hari engkau lahir sebagai manusia yang baru.
Hari di mana ayah ibumu sedang menonton televisi yang memutar cerita
tentang tangisan. Adakah seperti itu?

Kau tidak salah paham tentang suratku ini, bukan?
Ah, aku tahu kau bukan orang seperti itu! Kau orang peramah
yang berpikiran tamah. Kau penyair yang menganggap puisi adalah puisi. Iya, kan?

Sebagai penutup suratku ini,
kulafazkan kalimat yang amat sederhana:
“Selamat ulang tahun! Semoga panjang umur! Sukses menyertaimu!
Semoga bibirmu itu selalu mengisahkan kisah-kisah senyuman
pada diarymu yang selalu setia menanti cerita!”

Tunggu!
Sudahkah kau menjawab pertanyaanku itu,
sebelum kau memotong kue ulang tahunmu?
Plok, plok, plok! Dengar!
Tamu-tamumu sedang bergembira.
Tidakkah kau ingin membacakan sebuah puisi yang indah,
melebihi indahnya puisi yang pernah dibuat oleh penyair mana pun?

Compassvalewalk, Singapore (Desember 2007)


Puisi Ulang Tahun Menyentuh Hati

Rentang waktu

terkadang membuat kita lupa

bahwa kita semakin dewasa

Rentang waktu

terkadang membuat kita lupa

bahwa kita telah melanggar titah Yang Kuasa

Rentang waktu

terkadang membuat kita sadar

bahwa kita hanya manusia

yang tak punya apa-apa

selain jasad yang tak berguna

Rentang waktu

terkadang membuat kita sadar

bahwa Tuhan tidak melihat harta dan rupa

melainkan hati yang ada di dalam dada

dan amal jasad yang lata

Walau Einstein berkata bahwa rentang waktu itu berbeda

tergantung dalam keadaan apa kita berada

Namun Tuhan telah berkata,

“Hanya Akulah yang tahu umur manusia”.

Sekular barat berkata,

“Waktu adalah dollar di dalam kantung”

Namun Hasan Al-Bana berkata,

“Waktu adalah pedang, potong atau terpotong”.

Waktu…..

Alam terus menari dalam simfoninya

Waktu…..

Umur manusia didikte olehnya

Waktu….. setiap detaknya

memakukan kita di persimpangan jalan

jalan Tuhan atau jalan setan

Rentang waktu…..

semoga tak melalaikan kita

tuk terus berjalan di jalan-Nya

radenbeletz.blogdetik.com

Artikel Terkait



0 komentar:

Poskan Komentar